Archive for Mei, 2008

Mei 26 2008

Seorang Turis Amerika dan Seorang Petani Meksiko

Kisah percakapan antara seorang turis Amerika dan seorang petani Meksiko ini pernah saya baca di komik yang dimuat di salah satu majalah terbitan Amerika tahun 1980an, jadi sudah lama sekali. Nama majalahnya saya lupa dan juga percakapan aslinya yang dalam Bahasa Inggris saya sudah lupa, tapi saya masih ingat benar jalan ceritanya. Kira2 percakapannya adalah sebagai berikut:

Seorang turis Amerika pada suatu hari mengunjungi seorang petani Meksiko, maka terjadilah percakapan seperti ini:

Turis Amerika (TA): Wah, rupanya kalian mempunyai anak banyak sekali ya, apa tidak bisa dikendalikan??

Petani Meksiko (PM): Maaf, maksudnya apa ya?

TA : Begini, penduduk di negara2 berkembang seperti kalian sudah memenuhi 80% di Bumi ini sementara sumberdaya alam kita di bumi ini terbatas.

PM : Oh ya?? Kalau begitu sumberdaya alam kita ini akan cepat habis, bukan begitu?

TA : Benar sekali. Untuk itu kalian harus cepat2 mengendalikan perkembangan penduduk kalian agar sumberdaya alam kita tidak habis.

PM : Oh begitu?? Kalau begitu ini masalah pengendalian jumlah penduduk ya agar sumberdaya alam tidak habis?? Tetapi….. bukankah berarti bisa juga dilihat dari sisi pengendalian penggunaan sumberdaya alamnya sendiri ??

TA : Eh……. ehm….. iya betul.

PM : Nah, yang saya dengar, kalian, penduduk negara2 maju yang cuma 20% itu, menghabiskan 80% sumberdaya alam di bumi ini sedangkan kami yang 80% dari penduduk bumi hanya menghabiskan 20% dari sumberdaya alam yang ada di Bumi ini. Kalau begitu kalian dong yang mengendalikan penggunaan sumberdaya alam di Bumi ini. Kalian yang serakah yang menghabiskan sumberdaya alam ! Jangan serakah dong !!

TA : Eh… anu…. ehm…. iya. :oops:

2 responses so far

Mei 23 2008

Product or Service Pricing

Published by Kopel Satpam under Bisnis

Pricing is perhaps the most difficult and cumbersome aspect of doing business. The price given to your product has more than just monetary or economic implications. It may also touch the psychological implications as well. For example, if you price your product 20 percent less than the competitors, some buyers may simply take it as a cheaper price and for them it is an advantage but for more thoughtful buyers a reduced 20 percent price can mean anything from low-quality product to scrapped product.

So to best determine how to price your product, it is essential to be aware of the competition and the marketplace around. There are at least three criteria for setting the prices of your products and services as given in detail below:

Cost-Based Pricing:

Using this method, you calculate the costs of the components needed to produce each item in the line of products and services. You set the price of each item at whatever amount is required to pay back these costs and produce a margin of profit. As the costs of these components fluctuate, you reset your prices to reflect the latest round of changes.

Cost-based pricing can work well in  heavily costumised products, particularly when there is a heavy service-component to your offerings. The cost of labour is naturally one “component” in every product or service, and it will automatically reflect the cost of customising a product or providing a unique service to a customer.

This pricing method is common in the public sector too where cost-plus contracts are often more “acceptable” and easier to adiministrate than other pricing schemes.

Brief Scheme:

Cost of Products + Profit = Price

Market-based Pricing

This pricing method is suitable whenever you operate in a very competitive market. The only viable basis for setting prices in this kinda environment is to stick to “what the market will bear”. Using this approach you set prices at the level of competition with possibly a little variation (above or below). That is important to position your products or services as the best choice for consumers desiring quality, lower prices or special features that they prefer.

Market-based pricing provides a strong discipline for the organisation to hold down some costs, transfer other costs to customers or suppliers, and increase sales volume in order to benefit from the economy. For example if the costs are increased and you sell furniture, you can switch to knockdown furniture which leaves the “cost” of assembling to the consumers and at the same time reducing the cost of shipment from the factory.

Brief Scheme:

Product =< Competitor = Price

Profit-Based Pricing:

This approach makes the most sense when there is only little competition around.  Knowing the total monthly or annual expenses and sales volume, you set your prices to cover your costs and provide whatever level of profit you want (frankly it reminds me of TELKOM’s services a few years ago! ouch!).

For example, suppose that keeping the costs Rp. 1 billion a month and each month you’re selling 10,000 units. It’d take an average price of Rp 100,000 per unit to cover your costs (using the breakeven analysis method which we will possibly discuss in the future in my article). if you want to make Rp. 50,000,000 per month, you simply set your prices at the proper level - in this case, Rp 105,000. (Please correct the figures if I’m mistaken, I did not use calculator to come up with the figures because I was in a hurry! :mrgreen: Please help me correct it, if the calculation above is a mess!)

So, shortly said, in this kinda pricing, you are the king and you ‘control’ the market, you set the profit ‘whatever’ you like until it shows a down-sloping line in your sales chart! :mrgreen:

Brief Scheme:

Cost of Product + Other Expenses + Profit = Price

2 responses so far

Mei 22 2008

Lima Peristiwa Terjayus Yang Pernah Kualami………..

Sambil iseng2 menunggu dibukanya jam2 kantor saya iseng2 membuat postingan yang iseng dan kurang bermutu ini…… Jadi karena postingan ini dibuat pada waktu yang kurang tepat, jadi harap maklum kalau postingan ini terkesan iseng dan tentu saja kurang bermutu. Hehehe……..

Inilah lima peristiwa terjayus yang pernah kualami, mungkin di antara anda punya juga pegalaman yang lebih jayus lagi silahkan ditambahkan! :P

  1. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika mobilku yang lama disenggol cukup parah oleh angkot dan harus dirawat inap di bengkel untuk semingguan.  Nah selama mobilku dirawat di bengkel aku ke mana2 pakai angkot dan Taxi. Suatu hari aku harus pergi ke Jalan Palasari, ya daerah pasar buku2 di Bandung ini. Karena jaraknya cukup jauh dari kantorku maka aku meminjam mobil temanku. Sebenarnya aku orang yang sangat jarang sekali meminjam mobil teman karena aku lebih nyaman pakai taksi atau bahkan angkot daripada pinjam mobil orang.  Namun entah kenapa aku hari itu ingin meminjam mobil temanku mungkin karena ingin urusan cepat selesai. Pendek kata, aku segera meminjam mobil temanku dan segera berangkat. Nah, ini dia jayusnya, pada saat urusan selesai, aku lupa kalau aku tengah meminjam mobil temanku (yang kebetulan aku parkir agak jauh waktu itu), aku pulang pakai taksi yang kebetulan ada satu yang lagi mangkal di situ !! Aku baru ingat bahwa aku tengah pinjam mobil temanku pada saat taksi yang membawaku sudah ada di perempatan Jalan Dago dan Jalan Merdeka !! Dan akhirnya akupun terpaksa kembali lagi ! Weeekz…. jayus banget !!
  2. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu juga, menyangkut kebiasaanku buang angin sembarangan walaupun di kantor juga. Kebetulan waktu itu di kantor ada klien penting dan akupun juga turut diperkenalkan namun aku nggak ikut berbincang2. Nah, ceritanya pada waktu itu aku kebelet buang air kecil, aku masuk ke WC kantor yang memang didesain mirip dengan WC mal jadi sedikit nyaman dan lega kalau orang ingin buang air. Ketika aku masuk, WC dalam keadaan tak ada orang satupun, dan ketika aku tengah buang air kecil tiba2 terasa ada angin yang ingin keluar dari belakang. Karena kupikir tidak ada orang (dan aku nggak mau repot2 ngecek lagi), kukeluarkan angin tersebut dengan segenap “tenaga dalam”ku yang menghasilkan suara menggelegar. Nah, ketika aku selesai buang air kecil dan merapihkan bajuku kembali, tiba2 aku mendapatkan si klien kantorku juga tengah buang air kecil di urinoir di belakangku sambil menahan senyum! Siwalan….. kapan masuknya tuh orang?? Kok nggak kedengeran masuknya sih?? Aku cepat2 keluar WC sambil menahan2 malu senyum pula! Dasar jayus!
  3. Ini cerita terjadi sekitar 15 tahun yang lalu dan masih bersinggungan dengan WC. Waktu itu masih agak sering menonton pertandingan bola langsung di stadion Senayan, Jakarta. Entah menonton pertandingan mana lawan mana waktu itu karena sudah lupa, yang jelas di tengah pertandingan perutku merasa mulas dan ingin buang air besar. Walhasil aku berlari ke WC terdekat dan menemukan WC yang kosong! Wah kebetulan nih, aku pikir. WC yang pesing dan jorok (kayaknya khas WC stadion Senayan waktu itu)  itu akhirnya aku putuskan untuk aku gunakan karena sudah tidak tahan lagi. Namun apa yang terjadi?? Ternyata pintu WC itu tidak bisa ditutup karena engselnya lepas satu !! Walhasil….. karena sudah tidak tahan lagi…. aku terpaksa juga buang air besar di situ dengan posisi yang agak aneh… yaitu menghadap ke samping dalam upaya untuk menutupi “kehormatanku”. Untung waktu itu tidak ada orang yang masuk. Cepat2 aku buang air besar di situ namun setelah selesai “penderitaan”ku belum usai,  aku baru sadar bahwa tidak ada air mengalir di WC itu !! Pantesan WC-nya jorok dan bau !! Akhirnya setelah difikir2 terpaksa deh kukorbanan GT-Man ku untuk cebok dan setelah itu kutinggalkan deh GT-Man-nya di situ!! Dadaaaaag!! Jayus Banget !!
  4. Cerita jadul waktu di SMA menjelang kelulusan, makan di kantin dekat sekolah. Beli Mie Bakso yang waktu itu harganya cuma Rp. 200,- (tapi kualitasnya kurang memuaskan). Waktu itu tiba2 aku ingin mengambil buku dari dalam tas di dalam kelas dan terpaksa mie bakso kutinggalkan sebentar. Namun setelah aku kembali kok ternyata ada ibu2 yang makan mie baksoku. Lantas aku bertanya: “Lho, bu, itu kan bakso saya kenapa dimakan??”. Lalu ibu2 itu berkata dengan kalemnya: “Oh, ini mie baksonya adik toh?? Dikirain saya, saya udah beli mie bakso!”. Duh! Bloon sekaligus jayus deh tuh ibu2.
  5. Ini cerita pada saat mengangkat telepon jadul juga kira2 akhir tahun 1980an lalu. Ada yang telepon ke rumahku: “Halo…. di sana PT X?” kata suara di seberang telepon. “Bukan pak… ini rumah biasa!!” kataku. “Lho…. kok bisa salah ya??” kata suara di seberang sana lagi. “Mungkin salah sambung pak!!” kataku lagi. “Lho…. kalau udah tahu salah sambung kenapa teleponnya diangkat !!” katanya dengan suara agak kesal dan langsung menutup telepon. Yeeee…… jayus amat tuh orang, wong yang harusnya marah itu aku kok !!

Nah, demikianlah sekilas info tentang peristiwa2 jayus yang pernah kualami. Ada yang lebih jayus lagi?? :mrgreen:

7 responses so far

Mei 20 2008

Why Accrual Accounting??

If you have ever studied accounting, you will tend to have heard about accrual. Yes, of course you will easily know what the word accrual is by searching the word in the dictionary and voila the definition is there to see.  But do you know exactly what accrual (based) is?? Accrual is actually the opposite of the cash-based accounting and bookkeeping widely recognised by even laymen who have never studied accounting before. Cash-based accounting is based on the practice that income is posted or recorded when it is RECEIVED while expense is posted or recorded when it is PAID.  This kind of practice is widely carried out by most of businesses especially the proprietorships including most small single professional offices like doctors, lawyers, etc. On the other hand, accrual-based accounting or bookkeeping is based on the practice that income is recorded when it is EARNED rather than when it is received while expense is recorded when it is INCURRED rather than when it is paid.

Now take a closer look at this following simple example:

Suppose you don’t have any cars nor (motor)bikes and your current monthly public transportation expense is Rp. 350,000.00. Now you decide to buy a motorbike  in hope that you can press down the expense. You buy a motorbike which costs you 12 million rupiahs. But that’s not all, even with a motorbike you will have to spend more for gas or fuels, parking fees, etc, which totalled Rp. Rp. 250,000.00 per month. Now what is the total of the monthly transportation expense according to both cash-based and accrual-based calculation?

According to the cash-based calculation, your this month transportation expense will be:

- The purchase of the motorbike Rp. 12,000,000.00
- Gas or fuels, parking fees, etc. Rp. 250,000.00
TOTAL TRANSPORTATION EXPENSE Rp. 12,250,000.00

But in the next month your transportation will drop sharply to:

- Gas or fuels, parking fees, etc. Rp. 250,000.00

Yes! That’s it. Your next month transportation expense will drop to only Rp. 250.000,-

For several reasons which are beyond this text, this kind of sharp fluctuation is so much disliked by accountants. Shortly said, accountants don’t like to see a sharp fluctuation expense which is caused only by a single ’normal’ activity like that of buying a motorcycle. So accountants need to invent another way to express the total expense. From this point of view, the accrual-based bookkeeping is born.

In this motorcycle case, accountants tend to allocate the motorbike purchase into the approximate number of years served by that motorbike. Let’s suppose that the motorbike will approximately serve for 10 years.  Than the transportation expense from purchasing a motorcyle will be allocated as Rp 100,000.00 (12 millions divided by 10 years and divided again by 12 month). This Rp 100,000.00 will stay in the book as part of the transportation expense every month for 10 years.

So, according to accrual-based bookkeeping the total transportation of this month will be:

- The purchase of the motorbike - Rp. 100,000.00
- Gas or fuels, parking fees, etc. - Rp. 250.000.00
TOTAL TRANSPORTATION EXPENSE - Rp. 350,000.00

And how much will the next month total transportation expense be? Simple! It is totally constant and we see no more sharp fluctuation with this accrual based method:

- The purchase of the motorbike - Rp. 100,000.00
- Gas or fuels, parking fees, etc. - Rp. 250.000.00
TOTAL TRANSPORTATION EXPENSE - Rp. 350,000.00

The complexity of using accrual based accounting is growing as the company is growing as well. And using this accrual based bookkeeping requires adjustment entries at the end of each accounting period and often those adjustments are very complex, cumbersome and prone to human errors. But believe me, they are just a small price to pay for large organisation requiring numbers that accurately reflect the full value of the effort, accomplishment, and economic activity occurring during each accounting period. ;)

One response so far

Mei 20 2008

Nadal Brings Home Hamburg Masters Shield

Published by Kopel Satpam under Olahraga, Serba-Serbi

rafaelnadal.jpgrogerfederer.jpg

Rafael Nadal (Spain) and Roger Federer (Switzerland). 

As I watched Badminton Thomas Cup final on Sunday (5/18), my focus was also divided on the world class tennis final match in Hamburg between Roger Federer and Rafael Nadal. And as the Thomas Cup final did not involve the home country, Indonesia, which team I rooted for, my focus began to stay steadily on the tennis match. And I’m sure my choice to focus more on the tennis match was very much unregrettable as the play rose up to the top world class quality.

As all the tennis fans around the world realise that Rafael Nadal is entitled with the king of clay while Federer is known as the god of tennis which has been identical to him for at least 4 years, the final match’s atmosphere in Hamburg became turned up as those two will perform the ultimate showdown on the clay court. If the match was held in other (than clay) courts nobody will expect Nadal to win over the tennis god, but this match was performed in the clay that made both chance even with Nadal had a slightly better chance. But don’t forget Federer beat Nadal in the same tournament last year which prevented him from bringing home a shield from Hamburg.

At the beginning of the opening set, Federer seemed to take the set as he broke Nadal’s serve very early. But later on in the set, Nadal managed to turn the tables and took the opening set. In the second set, they were even getting more neck and neck and the set was decided with the tie-break and this time it was the Federer who took the advantage and he took the second set. In the decisive set, it was the reverse of the opening set. In this set Nadal broke early Federer’s serve to give him a chance to win the set without a tie-break. And that was what happened, Federer never managed to break back Nadal’s serve which means Nadal won the championship and brought home a shield which he missed last year!

Congratulation for Nadal. And it was a good job for Federer for being a very tough competitor for Nadal even in the clay court. And I believe both players are going to play in another ultimate showdown in the next clay court tournament, Roland Garros, the most prestigious clay court tournament on the planet!

One response so far

Mei 06 2008

Kualitas Blog yang Beragam……

Sejak menyenangi membuat blog yang serius di blogku di sini, akupun mulai rajin blogstrolling untuk membandingkan blog-blog yang ada. Pada awalnya aku lebih suka menjelajahi blog2 mancanegara yang berbahasa Inggris dan sedikit yang berbahasa Perancis. Blog-blog mancanegara itu memang sangat beragam temanya dan kualitasnya. Karena begitu banyaknya dan ragamnya blog yang berbahasa Inggris tersebut akhirnya aku mulai pusing untuk membandingkannya satu dengan yang lain. Sesudah itu maka aku putuskan untuk memfokuskan pada blog2 buatan anak negeri baik yang berbahasa Indonesia ataupun yang berbahasa Inggris.

Mula2nya aku banyak melihat blog-blog yang bagus2 isinya walaupun banyak juga blog-blog yang biasa2 saja hingga blog2 yang tidak lebih baik dari bak sampah di depan rumah saya! Saya melihat ada blog2 yang berkualitas wahid dengan tulisan karya sendiri dan tema2 yang dapat berguna jika dibaca oleh orang lain, namun ada pula blog2 yang isinya cuma curhat yang nggak jelas sampai pada blog yang isinya cuma copy-paste, video2 comotan dari YouTube dan foto2 comotan tanpa ada usaha improvisasi dari si empunya blog! Tentu saja kualitas dari blog ini ya begitulah adanya…… nggak tega mau bilang jelek! :mrgreen:

Yang jelas, apapun blog yang dibuat, tentu adalah hak penuh si empunya blog tentu saja. Lantas kenapa kualitas blog2 tersebut bermacam2?? Hmmm…. nampaknya tidak mudah untuk dijawab! Apakah pengaruh dari tingkat pendidikan?? Hmmm… rasanya nggak juga! Saya lihat blog buatan seorang anak SMA yang saya kenal nggak lebih buruk dibandingkan blog buatan seorang dosen ITB yang sudah menjadi seleb blog dan berpendidikan pascasarjana di luar negeri! Faktor usia?? Bisa jadi…. walaupun yang saya lihat ada seorang blogger pria berusia sekitar 40 tahunan, dulu tulisannya narsisis sekali, namun setelah saya “serang” dan saya narsisiskan kembali ternyata kenarsisisannya tidak ada apa2nya, yang akhirnya kini tulisannya sudah mulai membaik. Walaupun hingga kini komentarnya kebanyakan masih hanya mengisi blog2 yang berkualitas ‘anak2′ alias ‘ABG’ tapi peningkatannya sudah patut diacungi jempol meskipun baru hanya satu jempol.  Di satu fihak seorang blogger yang saya tidak tahu pasti usianya berapa, mungkin sekitar 20an tahun yang kini tengah menyelesaikan kuliah pascasarjananya di Negeri Belanda mempunyai tulisan yang sangat matang meskipun saya lihat juga ia sekali dua kali mengalami ‘kedodoran’. Ini menandakan usia yang ‘matang’ belum tentu akan menghasilkan tulisan yang matang pula. Bagaimana dengan latar belakang?? Berpengaruh pulakah?? Ah… itu sih tambah kompleks aja! Yang semakin kompleks tentu saja semakin nggak jelas apakah berpengaruh atau tidak!!

Namun dari hasil blogstrolling pula, saya dapat berkesimpulan bahwa blog2 bertema keagamaan terutama yang nyerempet2 masalah pertentangan antaragama atau antar kepercayaan selalu akan ramai dikunjungi dan dikomentari. Blog2 masalah aliran sesat ataupun Ahmadiyah bisa dipastikan akan selalu “ramai” dikomentari atau minimal dikunjungi serta menaikan traffic. Tema2 blog lain yang “ramai” dikunjungi dan dikomentari adalah blog2 gosip terutama blog gosip selebritis, apalagi kalau ada gambar2 supornonya! :P Dijamin laris manis! Jadi apakah blog2 seperti itu yang terhitung “bagus”?? Ah…. rasa2nya saya tidak berhak untuk menilai atas nama umum. Masing2 tentu berhak menilai apakah blog2 seperti itu bagus atau tidak. Tapi kalau menurut saya pribadi dan saya berpendapat atas nama pribadi, tentu blog2 seperti itu kebanyakan adalah sampah walaupun mungkin ada satu dua blog terutama blog2 yang bertema pertentangan antarkepercayaan atau antaragama dapat menjadi sebuah blog yang bagus jika isi blog tersebut dapat menganalisa dari sudut yang lebih obyektif dan tidak semata2 hanya menghujat kepercayaan orang lain!

Itu menurut saya lho…… Bagaimana menurut sampeyan??

3 responses so far

Mei 05 2008

Kosong……..

Published by Kopel Satpam under Iseng, Uncategorized

Kosong…….
Kubiarkan halaman ini kosong…….
Karena fikiranku memang sedang kosong……

Kosong…..
Kubiarkan halaman ini kosong…..
Membiarkan orang yang menatap halaman ini menatap dengan pandangan kosong……

Kosong….
Kubiarkan halaman ini kosong….
Sebab tak akan kubiarkan postingan ini penuh dengan omong kosong……

Kosong….
Kubiarkan halaman ini kosong…..
Karena yang sudi membaca postingan ini memang otaknya kosong…… :P

No responses yet

Mei 04 2008

Yesterday Once More

Published by Kopel Satpam under Iseng

Did you really listen to the radio when you were young? I did. I remember the  years when we only had one TV station nationwide, and radio was the thing you relied on when the TV programmes sucked.

Nowadays you may not frequently listen to your radio again. TV and Internet may occupy your head whenever it concerns entertainment and information. But certainly it is not your fault. But for those who are still trying to nurture the golden age of radio, you should listen to an old Caprenter’s song called “Yesterday Once More”. It is a sweet song as  it will bring you to the time when listening to radio was a virtue! Here below are the lyrics themselves:

YESTERDAY ONCE MORE

(By: CARPENTER)

When I was young
I listened to the radio
Waiting for my favourite song
When they played, I’d sing along
It made me smile…..

Those were such happy times
And not so long ago
How I wondered where they’d gone
But they’re back again
Just like a long lost friend
All the songs I loved so well

Every Sha-la-la-la
Every Wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they’re startin’ to sing’s
So fine

When they get to the part
Where he’s breakin’ her heart
It can really make me cry
Just like before
It’s yesterday once more…..

Lookin’ back on how it was
In years gone by
And the good times that I had
Makes today seem rather sad
So much has changed.

It was songs of love that
I would sing to then
And I’d memorize each word
Those old melodies
Still sound so good to me
As they melt the years away.

Every Sha-la-la-la
Every Wo-o-wo-o
Still shines
Every shing-a-ling-a-ling
That they’re startin’ to sing’s
So fine.

All my best memories
Come back clearly to me
Some can even make me cry.
Just like before
It’s yesterday once more……

No responses yet

Mei 03 2008

Mencoba Mobile Blogging   

Inilah mobile blogging pertama saya menggunakan SE K618i dengan kartu AXIS. Kesan saya atas mobile blogging ini merupakan pengalaman yang unik bagi saya. Namun saya juga merasakan mobile blogging dengan kibor ponsel biasa sangat melelahkan! Hehehe… :mrgreen:

2 responses so far

Mei 03 2008

American Corner vs WC Jadul!

Tanggal 28 April lalu, aku mengantarkan seorang teman melihat2 kampus ITB, kampus di mana teman saya tersebut rencananya akan meneruskan S2-nya. Karena teman saya mencari informasi tentang program pasca sarjana yang ada, saya memisahkan diri dan berkesempatan mengunjungi perpustakaan pusat di ITB yang catnya didominasi warna ungu dan sedikit putih tersebut. Ternyata di sana ada American Corner lengkap dengan koleksi bukunya yang lumayan banyak dan baru2. Tidak ketinggalan juga di sana ada komputer2 iMac (sayang gambar komputernya tidak sempat saya shoot) berlayar LCD besar yang sewaktu2 siap digunakan secara bebas. Pendek kata American Corner adalah tempat yang nyaman untuk membaca2 sekaligus browsing2, juga kalau membawa laptop dan koneksi Internet wireless sendiri, juga nyaman berinternet ria di American Corner ini.

080428_130548.jpg

080428_130733.jpg

Namun sayang, ketika aku ingin buang air kecil, aku mencari WC di perpustakaan tersebut. Yang kutemukan ternyata adalah WC yang jadul banget! Nggak seimbang dengan American Corner yang berada di perpustakaan tersebut! Ya amplop! :mrgreen:

080428_130045.jpg

080428_130106.jpg

6 responses so far