Sep 04 2009

Him…

Warning:

This posting may contain risqué material and it may not fit in the holy month of Ramadan. Readers’ discretion is so advised!

About a year ago, also in Ramadan if I’m not mistaken, at one night my cell rang, on the display I got an unfamiliar cell number though it was not concealed as a private number showing nothing of the caller’s number as most crank calls were. No, it was not a crank call. A lilt of  male voice came out of the earpiece on receiving the call. He introduced himself courteously that he was a new blogger just joining in the blogosphere. He got my number from my blog on WordPress. Frankly it was not my first time to get a call like that. Most of them came with polite and good intention to make friends.

Soon after introducing himself he brimmed the conversation with social chitchat still sounding normal to me but soon afterwards came a question that would explain out of him! “Pak Yari, are you married??” This question was asked to me not for the very first time. I know this is a typical question coming out of a lonely queer looking for a hopefully-lonely partner! For a moment I was a little disappointed. Why? It is because he is a queer?? Particularly not. But it was more because dark images on the queers who lurk in the internet only to seek for fantasy on sticking their hard putzes into someone’s opening!

I am not the one who hardly refuse to make friends. Of course making friends can produce joyful surprises and fun. I do not turn down friendships from those who are queerish either as long as it is based on sincererity and it is not based solely on instant lust that will go away as soon as their hard-ons loosen up! It has to be based on mutual respect and mutual brotherly love which lasts until kingdom come. And that’s that!

Now, I still correspond with him in sense of friendship. Though he asked me things which I dislike a few times (of course I passed them up) but I still take them for things within the normal boundaries. Truly I don’t want to cut a friendship with him nor with anybody nice. But hopefully he can retain the friendship within all standards of respect and honour.

No responses yet

Agu 05 2009

Seperti Papa dan Seperti Mama…

Published by Kopel Satpam under Iseng, cerita garing

Percakapan sebelum menikah (pada masa pacaran):

Calon Ayah: Wah… mudah2an jikalau anak kita lahir…. kalau anak itu perempuan…. mudah2an cantiknya kayak ibunya…..

Calon Ibu: Wah…. mudah2an jikalau anak kita lahir…. kalau anak itu laki2… mudah2an gantengnya kayak bapaknya….

Sepuluh tahun kemudian (setelah mereka kawin menikah tentu saja) yang lahir ternyata memang anak mereka laki2, rupanya sih boleh jadi ganteng kayak ayahnya tapi sayang anaknya suka malas bikin PR dan di sekolah suka kentut sembarangan….. Jadi inilah percakapan yang terjadi antara si bapak dan si ibunya anak tersebut (si suami dan si istri) 10 tahun kemudian…..

Suami : Wah….. anaknya ini pasti mirip ibunya, malas bikin PR udah begitu bodoh pula!

Istri: Wah….. itu anak suka kentut sembarangan di sekolah pasti itu nurun bapaknya!!

Nah lho……!! :mrgreen:

No responses yet

Okt 19 2008

Udah Lama Tinggal di Luar Negeri Kok Cuma Segitu…….

Published by Kopel Satpam under Iseng, Serba-Serbi

Melihat banyak pro dan kontra tentang UU Pornografi yang banyak berseliweran di dunia blogsfer termasuk yang saya tulis ini, membuat hati saya menjadi sadar bahwa memang setiap orang punya persepsi berbeda. Yang beragama Islam, terpecah menjadi yang mendukung, yang menolak dan ragu-ragu. Yang beragama lain cederung menentang RUU ini yang dalam hatinya sebenarnya cenderung mendukung pornografi. Yang Islam KTP biasanya sih turut menentang RUU ini, walaupun mungkin tidak semua.

Tetapi ada satu fenomena yang membuat saya agak sedikit merasa geli bahwa mereka yang tinggal di luar negeri cenderung untuk memakai standard “negeri baru” mereka. Sebenarnya wajar-wajar saja. Namun yang membuat saya geli adalah, mereka menggunakan standard “negeri baru” mereka jikalau standard itu mudah diikuti oleh mereka, seperti hal-hal yang berbau pornografi ini. Namun sayang otak mereka gagal memenuhi standard “negeri baru” mereka. Setidak-tidaknya ini dilihat dari mereka yang ngeblog yang sudah tinggal di luar negeri. Blog-blog mereka tidak lebih bagus dari blog saya mereka yang tinggal di dalam negeri. Itu sedikit menandakan otak mereka gagal beradaptasi dengan otak standard “negeri baru” mereka. Mereka hanya berhasil beradaptasi dengan hal-hal atau budaya-budaya yang gampang ditiru seperti yang berbau pornografi. Merekapun cenderung menganggap budaya dan kebiasaan “negeri baru” mereka lebih superior dari “negeri asal” mereka padahal….. hidung mereka tidak bertambah mancung semua budaya dan kebiasaan tidak bisa dinilai begitu saja mana yang lebih unggul dan mana yang lebih rendah, semua punya standard sendiri-sendiri. Itupun menandakan juga bahwa otak mereka gagal beradaptasi dengan fikiran “negara baru” mereka. Padahal mengenai budaya dan kebiasaan, yang terbaik adalah “hormatilah budaya setempat”. Jikalau budaya setempat tersebut tidak sesuai dengan anda, minimal anda tidak menganggap rendah atau menghina budaya setempat……… bukan begitu??

2 responses so far

Okt 14 2008

Ikan Garing

Published by Kopel Satpam under Iseng, cerita garing

A: Ikan apa yang paling terkenal?
B: Ah, gampang, Ikang Fawzi…..
A: Nah, sekarang Ikan apa yang nggak bisa hidup di air??
B: Pasti Ikang Fawzi lagi deh…. garing pertanyaannya…..
A: Ho’oh…. sekarang Ikan apa yang bisa bikin marah?
B: Hmmm… (sambil berfikir agak lama…) nggak tahu…. nyerah deh… Ikan apaan sih??
A: Ikang Fawzi juga goblog !! (sambil menggampar si B )
B: *#%$@****%# (menahan marah)

2 responses so far

Jun 27 2008

Spain or Germany??

Published by Kopel Satpam under Olahraga, Serba-Serbi

Flag of GermanyFlag of Spain

Which team do you think will bring home the Euro trophy in 2008? Germany? Spain? I actually don’t care who will but I expect to see the Spaniards will lift the trophy. Why? That’s because the Germans have had two Euro titles while the Spaniards only have one. So to make things even, I think this is the time for Spain to grab the title to collect another title for the Iberian country.

Moreoever I don’t care what team will win the title as long as it is not England. I don’t like England football team because they are always in the limelight while they always show minimum achievement in any international tournaments. Apart from the 1966 World Cup tournament, England has even never made to the final! I hope it will keep that way… :D

Let’s enjoy the final match of Euro 2008 whoever will top the pack! :D

5 responses so far

Jun 15 2008

When Experience Is Outclassed……

euro2008.jpgDo you always hear from anybody that experience outdoes noviciate?? If you do you are not alone, in fact everybody worldwide is told the same thing. But do you know that there is almost an exclusion for everything? Take a match of Euro 2008, for instance. I don’t believe that Les Bleus are overwhelmed by the orange-clad Dutch team! The scoreline is beyond belief: 1-4. I did not believe what I was watching when the scoreline showed the fact that the French managed to score a goal but they conceded 4 in return!

As a semi-francophile in every international or continental tourney I always root for France (In fact, at this Euro 2008 I also root for the Spaniards to lift the trophy for the second time). The French are actually crowded with the top-notch talented players especially when it concerns the strikers. But look at the back, the French are only powered by aging players! Lilian Thuram, already 34, is no doubt an experience-fed player. But that experience already under his belt did not save France from defeat. The Dutch who gained the power of young legs of their strikers prove out that experience does not always speak louder! And the night the Dutch overwhelming Les Bleus, everybody realises that every experience-noviciate contest can end up in a very stunning way! :)

One response so far

Jun 08 2008

Susah-Susah Gampang!

Published by Kopel Satpam under Iseng, Pengetahuan, Serba-Serbi

Dapatkan anda menghitung berapakah angka 5 yang kemudiaan diikuti oleh angka 8 tetapi yang sebelumnya bukan angka 4 ?? Hayo, bisa nggak??

4584585585484585858458558568458558858868458458558548458585845855
8568458558858868

Perhatian:

Test seperti ini bukanlah untuk mengetahui kemampuan numeris atau matematis anda melainkan untuk menguji kekuatan visual anda. :D

7 responses so far

Mei 26 2008

Seorang Turis Amerika dan Seorang Petani Meksiko

Kisah percakapan antara seorang turis Amerika dan seorang petani Meksiko ini pernah saya baca di komik yang dimuat di salah satu majalah terbitan Amerika tahun 1980an, jadi sudah lama sekali. Nama majalahnya saya lupa dan juga percakapan aslinya yang dalam Bahasa Inggris saya sudah lupa, tapi saya masih ingat benar jalan ceritanya. Kira2 percakapannya adalah sebagai berikut:

Seorang turis Amerika pada suatu hari mengunjungi seorang petani Meksiko, maka terjadilah percakapan seperti ini:

Turis Amerika (TA): Wah, rupanya kalian mempunyai anak banyak sekali ya, apa tidak bisa dikendalikan??

Petani Meksiko (PM): Maaf, maksudnya apa ya?

TA : Begini, penduduk di negara2 berkembang seperti kalian sudah memenuhi 80% di Bumi ini sementara sumberdaya alam kita di bumi ini terbatas.

PM : Oh ya?? Kalau begitu sumberdaya alam kita ini akan cepat habis, bukan begitu?

TA : Benar sekali. Untuk itu kalian harus cepat2 mengendalikan perkembangan penduduk kalian agar sumberdaya alam kita tidak habis.

PM : Oh begitu?? Kalau begitu ini masalah pengendalian jumlah penduduk ya agar sumberdaya alam tidak habis?? Tetapi….. bukankah berarti bisa juga dilihat dari sisi pengendalian penggunaan sumberdaya alamnya sendiri ??

TA : Eh……. ehm….. iya betul.

PM : Nah, yang saya dengar, kalian, penduduk negara2 maju yang cuma 20% itu, menghabiskan 80% sumberdaya alam di bumi ini sedangkan kami yang 80% dari penduduk bumi hanya menghabiskan 20% dari sumberdaya alam yang ada di Bumi ini. Kalau begitu kalian dong yang mengendalikan penggunaan sumberdaya alam di Bumi ini. Kalian yang serakah yang menghabiskan sumberdaya alam ! Jangan serakah dong !!

TA : Eh… anu…. ehm…. iya. :oops:

2 responses so far

Mei 23 2008

Product or Service Pricing

Published by Kopel Satpam under Bisnis

Pricing is perhaps the most difficult and cumbersome aspect of doing business. The price given to your product has more than just monetary or economic implications. It may also touch the psychological implications as well. For example, if you price your product 20 percent less than the competitors, some buyers may simply take it as a cheaper price and for them it is an advantage but for more thoughtful buyers a reduced 20 percent price can mean anything from low-quality product to scrapped product.

So to best determine how to price your product, it is essential to be aware of the competition and the marketplace around. There are at least three criteria for setting the prices of your products and services as given in detail below:

Cost-Based Pricing:

Using this method, you calculate the costs of the components needed to produce each item in the line of products and services. You set the price of each item at whatever amount is required to pay back these costs and produce a margin of profit. As the costs of these components fluctuate, you reset your prices to reflect the latest round of changes.

Cost-based pricing can work well in  heavily costumised products, particularly when there is a heavy service-component to your offerings. The cost of labour is naturally one “component” in every product or service, and it will automatically reflect the cost of customising a product or providing a unique service to a customer.

This pricing method is common in the public sector too where cost-plus contracts are often more “acceptable” and easier to adiministrate than other pricing schemes.

Brief Scheme:

Cost of Products + Profit = Price

Market-based Pricing

This pricing method is suitable whenever you operate in a very competitive market. The only viable basis for setting prices in this kinda environment is to stick to “what the market will bear”. Using this approach you set prices at the level of competition with possibly a little variation (above or below). That is important to position your products or services as the best choice for consumers desiring quality, lower prices or special features that they prefer.

Market-based pricing provides a strong discipline for the organisation to hold down some costs, transfer other costs to customers or suppliers, and increase sales volume in order to benefit from the economy. For example if the costs are increased and you sell furniture, you can switch to knockdown furniture which leaves the “cost” of assembling to the consumers and at the same time reducing the cost of shipment from the factory.

Brief Scheme:

Product =< Competitor = Price

Profit-Based Pricing:

This approach makes the most sense when there is only little competition around.  Knowing the total monthly or annual expenses and sales volume, you set your prices to cover your costs and provide whatever level of profit you want (frankly it reminds me of TELKOM’s services a few years ago! ouch!).

For example, suppose that keeping the costs Rp. 1 billion a month and each month you’re selling 10,000 units. It’d take an average price of Rp 100,000 per unit to cover your costs (using the breakeven analysis method which we will possibly discuss in the future in my article). if you want to make Rp. 50,000,000 per month, you simply set your prices at the proper level - in this case, Rp 105,000. (Please correct the figures if I’m mistaken, I did not use calculator to come up with the figures because I was in a hurry! :mrgreen: Please help me correct it, if the calculation above is a mess!)

So, shortly said, in this kinda pricing, you are the king and you ‘control’ the market, you set the profit ‘whatever’ you like until it shows a down-sloping line in your sales chart! :mrgreen:

Brief Scheme:

Cost of Product + Other Expenses + Profit = Price

3 responses so far

Mei 22 2008

Lima Peristiwa Terjayus Yang Pernah Kualami………..

Sambil iseng2 menunggu dibukanya jam2 kantor saya iseng2 membuat postingan yang iseng dan kurang bermutu ini…… Jadi karena postingan ini dibuat pada waktu yang kurang tepat, jadi harap maklum kalau postingan ini terkesan iseng dan tentu saja kurang bermutu. Hehehe……..

Inilah lima peristiwa terjayus yang pernah kualami, mungkin di antara anda punya juga pegalaman yang lebih jayus lagi silahkan ditambahkan! :P

  1. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu ketika mobilku yang lama disenggol cukup parah oleh angkot dan harus dirawat inap di bengkel untuk semingguan.  Nah selama mobilku dirawat di bengkel aku ke mana2 pakai angkot dan Taxi. Suatu hari aku harus pergi ke Jalan Palasari, ya daerah pasar buku2 di Bandung ini. Karena jaraknya cukup jauh dari kantorku maka aku meminjam mobil temanku. Sebenarnya aku orang yang sangat jarang sekali meminjam mobil teman karena aku lebih nyaman pakai taksi atau bahkan angkot daripada pinjam mobil orang.  Namun entah kenapa aku hari itu ingin meminjam mobil temanku mungkin karena ingin urusan cepat selesai. Pendek kata, aku segera meminjam mobil temanku dan segera berangkat. Nah, ini dia jayusnya, pada saat urusan selesai, aku lupa kalau aku tengah meminjam mobil temanku (yang kebetulan aku parkir agak jauh waktu itu), aku pulang pakai taksi yang kebetulan ada satu yang lagi mangkal di situ !! Aku baru ingat bahwa aku tengah pinjam mobil temanku pada saat taksi yang membawaku sudah ada di perempatan Jalan Dago dan Jalan Merdeka !! Dan akhirnya akupun terpaksa kembali lagi ! Weeekz…. jayus banget !!
  2. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu juga, menyangkut kebiasaanku buang angin sembarangan walaupun di kantor juga. Kebetulan waktu itu di kantor ada klien penting dan akupun juga turut diperkenalkan namun aku nggak ikut berbincang2. Nah, ceritanya pada waktu itu aku kebelet buang air kecil, aku masuk ke WC kantor yang memang didesain mirip dengan WC mal jadi sedikit nyaman dan lega kalau orang ingin buang air. Ketika aku masuk, WC dalam keadaan tak ada orang satupun, dan ketika aku tengah buang air kecil tiba2 terasa ada angin yang ingin keluar dari belakang. Karena kupikir tidak ada orang (dan aku nggak mau repot2 ngecek lagi), kukeluarkan angin tersebut dengan segenap “tenaga dalam”ku yang menghasilkan suara menggelegar. Nah, ketika aku selesai buang air kecil dan merapihkan bajuku kembali, tiba2 aku mendapatkan si klien kantorku juga tengah buang air kecil di urinoir di belakangku sambil menahan senyum! Siwalan….. kapan masuknya tuh orang?? Kok nggak kedengeran masuknya sih?? Aku cepat2 keluar WC sambil menahan2 malu senyum pula! Dasar jayus!
  3. Ini cerita terjadi sekitar 15 tahun yang lalu dan masih bersinggungan dengan WC. Waktu itu masih agak sering menonton pertandingan bola langsung di stadion Senayan, Jakarta. Entah menonton pertandingan mana lawan mana waktu itu karena sudah lupa, yang jelas di tengah pertandingan perutku merasa mulas dan ingin buang air besar. Walhasil aku berlari ke WC terdekat dan menemukan WC yang kosong! Wah kebetulan nih, aku pikir. WC yang pesing dan jorok (kayaknya khas WC stadion Senayan waktu itu)  itu akhirnya aku putuskan untuk aku gunakan karena sudah tidak tahan lagi. Namun apa yang terjadi?? Ternyata pintu WC itu tidak bisa ditutup karena engselnya lepas satu !! Walhasil….. karena sudah tidak tahan lagi…. aku terpaksa juga buang air besar di situ dengan posisi yang agak aneh… yaitu menghadap ke samping dalam upaya untuk menutupi “kehormatanku”. Untung waktu itu tidak ada orang yang masuk. Cepat2 aku buang air besar di situ namun setelah selesai “penderitaan”ku belum usai,  aku baru sadar bahwa tidak ada air mengalir di WC itu !! Pantesan WC-nya jorok dan bau !! Akhirnya setelah difikir2 terpaksa deh kukorbanan GT-Man ku untuk cebok dan setelah itu kutinggalkan deh GT-Man-nya di situ!! Dadaaaaag!! Jayus Banget !!
  4. Cerita jadul waktu di SMA menjelang kelulusan, makan di kantin dekat sekolah. Beli Mie Bakso yang waktu itu harganya cuma Rp. 200,- (tapi kualitasnya kurang memuaskan). Waktu itu tiba2 aku ingin mengambil buku dari dalam tas di dalam kelas dan terpaksa mie bakso kutinggalkan sebentar. Namun setelah aku kembali kok ternyata ada ibu2 yang makan mie baksoku. Lantas aku bertanya: “Lho, bu, itu kan bakso saya kenapa dimakan??”. Lalu ibu2 itu berkata dengan kalemnya: “Oh, ini mie baksonya adik toh?? Dikirain saya, saya udah beli mie bakso!”. Duh! Bloon sekaligus jayus deh tuh ibu2.
  5. Ini cerita pada saat mengangkat telepon jadul juga kira2 akhir tahun 1980an lalu. Ada yang telepon ke rumahku: “Halo…. di sana PT X?” kata suara di seberang telepon. “Bukan pak… ini rumah biasa!!” kataku. “Lho…. kok bisa salah ya??” kata suara di seberang sana lagi. “Mungkin salah sambung pak!!” kataku lagi. “Lho…. kalau udah tahu salah sambung kenapa teleponnya diangkat !!” katanya dengan suara agak kesal dan langsung menutup telepon. Yeeee…… jayus amat tuh orang, wong yang harusnya marah itu aku kok !!

Nah, demikianlah sekilas info tentang peristiwa2 jayus yang pernah kualami. Ada yang lebih jayus lagi?? :mrgreen:

7 responses so far

Next »